Rabu, 17 Februari 2016

Ketika pendosa diampuni tuhan, Orang suci sesungguhnya benci ampunan tersebut

"Orang suci" sesungguhnya lebih menginginkan kepedihan dan siksa daripada apapun. Bahkan ampunan dan kasih untuk mereka sendiri. Karena apa yg mereka bicarakan, pikirkan, setiap detiknya adalah siksa yang pedih bagi orang-orang yang asing. Orang-orang yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka. Orang-orang yang lebih bahagia dari mereka.
Ketika ada ampunan, kasih sayang, kelembutan, penyerahan diri, mereka berang. Tidak nyaman. Bagai ikan yang berada di udara, mereka tersiksa. Tidak nyaman dengan kenyamanan. Mereka candu amarah, rasa resah, cemas, dan mereka mengkonsumsi kecurigaan dan pergunjingan agar mendapatkan efek nya.
Karena orang yang berbahagia adalah pendosa. Karena merasakan cinta bukan untuk di bumi. Tapi ditempat yang lain nun jauh di antah berantah. Yang tidak akan pernah kamu sampai disana. Kecuali kamu membusuk di bumi.
Mungkin aku berdosa menyebut mereka pendosa sesungguhnya. Tapi aku tidak tahu apakah aku berdosa karenanya atau tidak. Namun, orang-orang "suci" ini, mereka tahu betul kapan kamu berdosa bahkan sebelum Tuhan tahu bahwa kamu berdosa. Atau mungkin, mereka lah Tuhan nya? Ah, aku pasti berdosa lagi mengatakan hal barusan. Dan mereka tau itu. Mereka menjamin mengetahuinya secara pasti. Aku iri.

Jumat, 16 Agustus 2013

ga gampang. tapi sederhana.

"Apa kunci kebahagiaan itu?" 

"Saat tersenyum, tersenyumlah.
Saat tertawa, tertawalah.
Saat tidur, tidurlah.
Saat makan, makanlah.
Saat sedih, menangislah. 
Saat bersama dengan yang dicinta, sayangilah. 

Saat bertemu musuhmu, maafkan dan maklumilah.
Saat berpisah, lepaskan dan relakanlah.
Saat emosi datang, menjauhlah dari siapapun.
Inilah kunci kebahagiaan."


"Semudah itu?" 

"Siapa yang bilang mudah? 
Banyak yang senyum, tetapi penuh kepedihan. 
Banyak yang tertawa, tetapi tertawa penuh keangkuhan. 
Banyak yang makan, tetapi tidak merasakan apa yang dimakan, penuh kesibukan, sibuk bicara, dan lainnya. 
Banyak yang bersama dengan yang disayang, tetapi tidak pernah mengutarakan rasa sayangnya."


Rabu, 07 Agustus 2013

oh, begitu

saya dapatkan menulis seperti ini berguna buat saya. ide-ide yang saya tulis ternyata hanya mampir di kepala saya. beberapa saat saja.mungkin salah. tapi jelas berguna. setidakmya untuk saya sendiri.

apakah saya harus menjadi kamu?

saya bertanya-tanya adakah orang diluar sana yang berpikiran sama dengan saya? atau setidaknya diluar sana ada yang terbesit tentang ide bahwa fenomena pernikahan di indonesia (lupakan tradisi negara lain, fokus saja dengan apa yang kita hadapi sekarang) adalah hanya merupakan tradisi atau CIPTA KARYA MANUSIA? anda bisa saja mengemukakan bahwa pernikahan itu berlandaskan anjuran agama yang wajib hukum nya. tapi kenapa kita tidak bisa melaksanakan apa yang benar2 wajib dan memusnahkan apa yang tidak wajib? (banyak diantara nya sunah pun tidak)
saya hanya seorang manusia, saya ingin bisa bebas dari semua aturan yang manusia pernah buat.
karena merdeka dan bebas adalah sifat dasar manusia. anda benar benar bebas memilih apapun yang ingin anda pilih bahkan anda bebas memilih untuk terikat dan tertekan dan tertahan dari masa lalu, aturan aturan, kebiasaan, rasa takut, prasangka, penilaian dari orang lain, dan segalanya. atau anda bisa memilih melepaskan semua itu dan berpikir bebas dan bersih. fitrah. suci. seperti bayi baru lahir.

bayangkan bayi yang baru lahir. apakah ia punya rasa terikat? tidak, kecuali makan dan minum. apakah bayi merasa tertekan? apakah mereka punya prasangka?

Kamis, 11 Juli 2013

perspektif saya saat ini

saya nang fadhli, saya tidak mengerti kenapa orang tua saya menyerahkan begitu saja penamaan anak kepada orang lain dan dijadikan pula sebagai panggilan. satu suku kata dan memaksa orang untuk memanggil dengan imbuhan "e".

setiap sore, saya merasakan hal yang tidak menyenangkan. sore buat saya adalah sakit, sepi, tidak tenang, gerah, gelap, kuning, derita, dan sebagainya. saya menyukai siang. siang itu buat saya adalah terang, tenang, angin, damai dan bahagia.

saya menyukai seni. gambar abstrak yang baik terutama dari artis saat ini. saya suka sekali garis, warna yang ditambahkan di belakangnya dan tekstur yang terbentuk karena goresan tersebut.

saya suka sekali ketenangan. dan saya dapatkan saya suka sekali kesederhanaan. dan terakhir saya juga mendapatka bahwa dengan menginginkan sesuatu di dunia ini yang membuat kita merasa tidak punya atau absen karena ketidakadaan, ini menyebabkan kemelekatan. saya baru mengerti apa maksudnya ketika saya menjalani hari dengan penuh kesederhanaan.

ketika semua terasa kosong, semua dilepaskan, saya merasa tidak punya beban. karena saya tidak punya beban maka merasa terpenuhi, karena tidak ada lagi yang saya butuhkan. menjadi kosong adalah hal yang benar benar menyenangkan, menenangkan. dan saya masih harus belajar banyak untuk itu.

sewaktu saya diam,dimana keheningan berada. yang ada hanyalah alam yang berbicara. dan saya pikir lebih baik begitu. alam berbicara hal-hal yang sebenar-benarnya. sedangkan manusia bisa berbicara dengan berbagai macam emosi, energi, dan maksud yang bisa berlapis.

Senin, 08 Juli 2013

kebenaran sejati atau kebenaran kolektif?

ketika seseorang di arak keliling kampung karena melakukan kesalahan atau melanggar norma-norma, dihajar dan di siksa dengan penuh rasa benci dari seluruh penduduk, dikutuk, di sumpahi, di ludahi, karena tersangka telah melakukan tindakan asusila. namun, dengan cerita yang sama yesus pun diarak dan disiksa habis2an (setidaknya itu yang saya tonton di the passion of christ). saya tidak membicarakan agama apapun. saya hanya membicarakan massa yang menyiksa. mari kita fokus ke massa.

terlepas dari benar atau tidak nya apa yang massa itu perjuangkan, tapi kedua sifat massa itu sama. menyiksa dan memukul dan menumpahkan rasa benci. massa yang menyiksa tersangka asusila merasa bahwa si kunyuk pezinah ini harus di beri pelajaran. biar dia mengerti kalau yang dia lakukan itu salah. masalahnya, pengeroyok yesus pun berpikiran hal yang sama. mereka memberi pelajaran kepada pelanggar aturan. terlepas dari aturan apapun, mari kita tetap fokus ke massa atau pengeroyok.

sekali lagi, cerna dan rasakan dengan membayangkan bagaimana keadaan ketika seseorang dihakimi massa. hanya ada rasa benci, marah, puas karena menghajar, puas karena tersangka bonyok, dan lain-lain. di saat yang bersamaan, rasakan perasaan apa yang terasa pada saat keduanya misalnya terjadi secara bersamaan. apa bedanya penghukum tukang zinah dengan penghukum yesus? sedangkan kita ketahui bersama yesus itu jelas orang yang lebih suci dibandingkan pezinah. tapi herannya yang mengeroyok punya sifat yang sama. cerita ini berlanjut ke orang2 agung lainnya seperti muhammad, dan seterusnya.

bayangkan apakah mungkin orang-orang mulia ini akan pernah berpartisipasi mengeroyoki dan menghakimi massa terlepas apapun yang dilakukan tersangka. saya rasa tidak. menghukum, mungkin iya. tapi tidak pernah mungkin benci dan perasaan ingin menghukum juga perasaan seperti "mampus luh" terbesit walaupun secuil ketika menghukum.

ketika seseorang dirasa perlu dihukum, ingat2 saja orang-orang suci yang penuh kasih sayang dan cinta tadi. apa mungkin mereka punya sikap yang sama dengan perasaan yang kamu rasakan?

HELLO DUDE!

just read, and leave. (comment if you want to)

Mengenai Saya

Foto saya
Today I'm dirty I want to be pretty Tomorrow, I know, I'm just dirt